Nyamnyam ⭗

Keringat dan Darah Suporter yang Menjaga Union Berlin Tetap Hidup

27 Mei 2019 sekitar pukul 21.30 malam, mungkin akan menjadi malam terindah bagi para pendukung Union Berlin. 1 kilometer sebelah barat stasiun kereta Kopenick, di tengah hutan kota, atau tepatnya di Stadion An der Alten Forsterei, 22 ribu orang lebih lebur dalam kebahagian pada penantian lebih dari setengah abad. Union Berlin berhasil memastikan promosi ke Bundesliga untuk pertama kalinya.

Skenario promosi Union bisa dikatakan dramatis. Sukses membawa keuntungan 2 gol di laga leg pertama kontra Stuttgart, publik Alten Forsterei bungkam pada menit 9 ketika Dennis Aogo mencetak gol melalui tendangan bebas. Tetapi, wasit Christian Dingert menganulir gol tersebut, menganggap Nicolas Gonzalez menghalangi pandangan kiper Rafal Gikiewicz.

Pada akhirnya, Berlin menambah satu klub lagi di persaingan Bundesliga 2020. Union promosi ke Bundesliga 1 berkat kemenangan gol tandang atas Stuttgart.

Union menjadi klub kelima asal Berlin Timur yang berlaga di Bundesliga. Energie Cottbus (2009) merupakan klub ‘Timur’ terakhir yang berkompetisi di divisi teratas sepakbola Jerman.

“Seluruh lapisan klub melakukan segalanya untuk kesuksesan ini. Itu adalah penampilan luar biasa dari tim. Tetapi saya selalu percaya kami akan melakukannya [promosi],” ungkap pelatih Urs Fischer.

Ucapan Fischer memang benar, kesuksesan Union tidak hanya datang dari keberuntungan dan kinerja tim di lapangan. Lebih luas, di tengah pergolakan politik hingga kesulitan finansial, para suporter dengan tulus memberikan keringat dan darah yang membuat klub berjuluk Die Eisernen (Si Besi) itu hidup panjang.

Klub Semenjana yang Terus Melawan

Awal berdiri pada 1906 dengan nama FC Olympia Oberschöneweide, klub berganti-ganti nama hingga sepuluh kali. Tetapi setelah serangkaian pembubaran dan reformasi setelah Perang Dunia II, nama 1. FC Union Berlin resmi disandang pada Januari 1966, ketika pemimpin federasi serikat buruh Herbert Warnke mengusulkan sebuah klub dibentuk untuk para pekerja Berlin.

Gaung Union mulai terdengar saat mereka meraih gelar FDGB-Pokal 1968, gelar paling prestisius di Jerman Timur setelah DDR-Oberliga. Di laga final, klub yang pada awal masa berdirinya mendapat julukan Schlosser Jungs (Para Pandai Besi) menekuk Carl Zeiss Jena dengan skor 2-1.

Tetapi masa 24 tahun mereka di Oberliga membawa sedikit kesuksesan di atas lapangan. Pasalnya rival satu kota mereka, BFC Dynamo menemukan sekutu yang jauh lebih kuat daripada Warnke. Tim-tim sepakbola Jerman Timur biasanya dibentuk dari para pekerja pabrik, tetapi BFC Dynamo adalah klubnya Stasi -intelijen Jerman Timur-. Erich Mielke, adalah pemimpin klub sekaligus ketua Stasi.

Di tengah semakin ketatnya pembatasan wilayah Jerman Timur dan Barat, BFC Dynamo iri dengan prestasi Dynamo Dresden yang menjadi kampiun Oberliga lima kali pada periode 1971-1978. Dengan privilese dan kekuatan Mielke sebagai ketua Stasi, BFC Dynamo memanipulasi liga, menggembosi skuat Dresden, hingga mengancam wasit. Supremasi mereka tidak diragukan lagi, BFC Dynamo menang sepuluh kali berturut-turut Oberliga antara 1979 hingga 1988.

Kesuksesan di lapangan menjadi perhatian kedua bagi Union. Saat BFC Dynamo memperkuat cengkraman mereka di kancah sepak bola, Union tumbuh menjadi entitas anti kemapanan. Punk, skinhead, hingga pelajar bersekutu sebagai suporter, menyuarakan kemarahan mereka pada negara di dalam stadion.

Mendukung Union menjadi sebuah katarsis, tetapi juga subversif. Terlepas dari naik-turunnya performa tim di liga, para para suporter tetap berteriak ‘tembok harus runtuh’, atau ‘saya lebih suka menjadi pecundang daripada menjadi Stasi’ di tiap pertandingan Union.

Kemenangan 1-0 Union atas BFC Dynamo pada Oberliga 1976/1977 mungkin merupakan salah satu kenangan indah bagi para suporternya. BFC Dynamo melakukan segala cara untuk menang, tetapi gol tunggal Union yang dicetak Ulrich Netz pada menit 14 tak mampu dibalas.

“Mereka mencoba segala cara untuk menang: menit tambahan, penalti, tetapi itu tidak bekerja. Itu adalah kemenangan besar. Kami telah mengalahkan sebuah sistem,” sebut suporter veteran Union, Frank Volker yang juga merupakan pendiri klub suporter FC Schluckauf 82.

Perlawanan tersebut masih berlanjut, bahkan setelah tiga dekade Tembok Berlin diruntuhkan. Generasi muda tidak lagi menentang hegemoni dan represi pemerintah, mereka lebih idealis, memegang teguh prinsip, ‘sebuah klub sepakbola adalah milik suporter’.

September tahun lalu, tepatnya di laga bersejarah, laga perdana Bundesliga Union, para suporter justru hening di 15 menit pertama. Tindakan itu dilakukan untuk menentang model kepemilikan klub sang lawan, RB Leipzig yang dimiliki pemodal tunggal, perusahaan minuman energi asal Amerika Serikat, Red Bull. Aksi tersebut dipimpin kelompok ultras tertua Union, Wuhlesyndikat.

“Itu aksi menyakitkan… tetapi di sana ada kesempatan hebat untuk membuktikan bahwa kami adalah kemenangan di Bundesliga --karena kami siap untuk bertarung demi nilai kamu, kultur klub kami, dan membuat pengorbanan,” bunyi pernyataan dari kelompok tersebut.

Die Eisernen bangga dengan fakta klubnya bisa bertahan tanpa adanya sponsor tunggal seperti RB Leipzig. Pada 2009, Union bahkan melepaskan diri dari sponsor utamanya, ISP (Internasional Sport Promotion), lantaran manajernya memiliki riwayat pernah menjadi seorang Stasi selama 10 tahun.

Kendati terus melawan gulatan komersialisasi sepakbola dan sejarah pelik dengan era Perang Dingin dengan Stasi, para pendukung Union tetap realistis. Kadang kita harus berdamai dengan sejarah kelam. Buktinya, Chairman klub saat ini, Dirk Zingler pernah menghabiskan waktu tiga tahun sebagai Stasi, meski dia juga seorang fans berat Union.

“Zingler menghabiskan waktu 3 tahun dengan Stasi, tetapi hanya karena dia ingin kuliah. Anda hanya diizinkan kuliah setelah melakukan wajib militer minimal 18 bulan. Karena Zingler telah melakukan banyak hal hebat untuk klub kami dalam beberapa tahun terakhir, menurunkannya adalah hal yang terlintas di kepala kami,” jelas Volker.

Hidup dari Keringat dan Darah Suporter

Usai reunifikasi simbolik Jerman Barat dan Timur pada 9 November 1989, penampilan Union di atas lapangan justru membaik. Tetapi, masalah finansial mengancam eksistensi klub. Timpangnya ekonomi antara eks daerah Jerman Barat dan Timur tak dapat dilepaskan dari faktor utama.

Menurut jurnalis, DW, Brett Neely, ada tahun-tahun setelah reunifikasi Jerman pada tahun 1990, lebih dari 14.000 perusahaan Jerman Timur diprivatisasi dan sebanyak empat juta pekerja Jerman Timur kehilangan pekerjaan.

Namun, Eisern sempat menjadi pemuncak Regionalliga (divisi tiga Liga Jerman) pada 1993 dan 1994, tetapi tidak diperbolehkan promosi ke 2. Bundesliga lantaran masalah finansial.

Selepas naik turun divisi, pada 2000/2001, Union dengan bantuan penyerang asal Brasil, Daniel Teixeira, berhasil melangkah ke babak final DFB Pokal untuk pertama kalinya. Kendati kalah dari Schalke 04 di babak final, regulasi memungkinkan Union untuk lolos ke fase pertama Piala UEFA.

Musim 2004, mereka kembali terdegradasi ke Regionalliga dan badai finansial kembali menerpa para Pandai Besi. Federasi Sepakbola Jerman (DFB) menginginkan jaminan uang registrasi di Regionalliga sebesar 1.46 juta euro. Dirk Zingler sebagai pemilik baru, menalang sebagian besar dana, sementara para fans secara sukarela melakukan kampanye Bluten fur Union atau dapat diterjemahkan, Berdarah untuk Union.

Kampanye tersebut berkonsentrasi dalam kegiatan donor darah, yang mana seluruh keuntungan donasi tersebut diberikan kepada klub. Transfusi darah kepada klub untuk tetap hidup.

“Setiap sumbangan sangat membantu membantu. Dan jika beberapa sponsor yang secara finansial kuat ikut serta, kami akan mendapatkan 1,46 juta euro bersama. Itu akan menjadi ciri khas Berlin: dalam keadaan darurat, setiap orang berdiri bersama dan membawa setiap anak keluar dari sumur. Karena satu hal yang pasti: Berlin membutuhkan 1. FC Union,” tulis pernyataan di situs resmi klub.

Union bertahan hidup. Tetapi degradasi ke divisi 4, liga semi-profesional tidak terelakan. Zingler berjudi dengan mempertahankan beberapa pemain profesional di tengah keadaan finansial yang di ujung tanduk. Perjudian terbayar, Daniel Teixeira kembali ke Alten Forsterei dan mengantarkan kembali Union ke Regionalliga.

Suporter Union kembali diuji. Pada 2008, DFB secara resmi memberikan pernyataan bahwa Stadion Alten Forsterei tidak memenuhi syarat keamanan sepakbola profesional. Namun, para suporter kembali menjaga hidup klub tercintanya. Kali ini bukan darah, melainkan keringat. Mereka merenovasi stadion mereka sendiri, secara sukarela. Estimasi 140.000 jam kerja para sukarelawan dari pelbagai usia terbayar dengan gelar liga di akhir musim.

Yang lebih penting, Union menemukan kembali stabilitasnya. Dari 7 musim perdana di 2. Bundesliga, mereka tidak pernah finis di atas peringkat 6 dan tidak pernah mengakhiri musim di bawah peringkat 12. Untuk klub yang sering terseok, catatan tersebut adalah anugerah.

Puncaknya adalah musim 2018/19, ketika Urs Fischer —pelatih yang membawa FC Basel menjuarai liga Swiss pada 2015, 2016, dan 2019, masuk sebagai juru taktik menggantikan Andre Hofschneider. Instan, Union finis di peringkat 3 sebagai tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit di 2. Bundesliga (33 gol), sekaligus jatah play-off melawan peringkat 16 Bundesliga.

Seperti cerita di atas, Union sukses ke Bundesliga dengan keunggulan gol tandang atas Vfb Stuttgart. Di musim perdananya di divisi tertinggi, Union finis di peringkat 12, hanya kalah selisih gol dari tetangga dan klub ‘terbesar’ di Berlin, BSC Hertha. Lebih impresifnya, musim 2020/21, mereka untuk sementara bertengger di peringkat 8, mengungguli Hertha (14) dan sudah tidak terkalahkan dalam 5 pekan terakhir.

“40 tahun saya menunggu momen ini [promosi ke Bundesliga]. Saya sangat senang karena orang-orang yang terikat dengan klub sangat pantas mendapatkannya. Saya sangat senang,” sebut Dirk Zingler usai laga melawan Stuttgart.